Pages

SPONSOR

Followers

sponsor

Tuesday, March 5, 2013

Wanita Minum Darah Sndiri Agar Tak Gemuk

160956_ffionjonesmirror_m

Ffion Jones sangat takut badannya gemuk. Ketakutan berlebihan itu membuatnya mengidap anoreksia. Bahkan dia meminum darahnya sendiri agar tidak gemuk.

Gangguan makan yang parah membuat Ffion meyakini dirinya akan bertambah beratnya jika minum air, mengendus, dan bahkan memegang makanan. Maka itu dia rela melukai dirinya sendiri dan meminum darahnya pada saat kehausan.
Ffion kerap berbohong soal makan pada keluarganya. Sering kali dia mengatakan sudah makan di sekolah atau di rumah teman ketika orang tuanya bertanya kenapa dia tidak makan. Tak jarang dia membuang makanannya dan diam-diam mengonsumsi obat pencahar. Dia tidak rela tubuhnya bertambah beberapa kilogram.
Anoreksia ini mulai dialami Ffion saat usianya 11 tahun. Saat itu dia masih duduk di SMP. Ffion yang sebelumnya tidak pernah mengkhuatirkan bentuk tubuhnya tiba-tiba merasa khuatir saat berat badannya 57 kg.
Fikiran buruk pun selalu hinggap di benaknya. Ffion merasa dirinya lemah, jelek, tidak menarik. "Lalu saya mulai makan hanya dengan ais batu dan gula getaht," ujar perempuan yang saat ini berusia 23 tahun itu.
Berat badan Ffion kala itu menyusut drastis. Keluarganya pun khuatir. Mereka menduga Ffion terkena penyakit berat seperti kanser atau lainnya. Hingga akhirnya Ffion dibawa ke tempat pengobatan. Di sana diketahui banyak semacam memar di punggung Fhion akibat olahraga yang terlalu berlebihan.
Dokter juga mengatakan Ffion mengalami anoreksia. Saat itu Ffion begitu terkejut mendengarnya. Mereka berpikir hal itu akan berlangsung sesaat, namun nyatanya tidak demikian.
Ffion masih saja menyembunyikan makanannya dan berbohong dirinya sudah makan kepada sang ibu. Berat badannya terus menyusut karena Ffion membiarkan dirinya kelaparan, olahraga berlebihan, dan kerap mengonsumsi obat pencahar.
"Suara di kepala saya semakin keras mengatakan kalau saya adalah orang yang buruk," ucapnya.
Kala itu Fhion selalu bangun pukul 5 pagi dan segera berolahraga. Dia lari selama beberapa jam meskipun saat itu sedang banyak salju sehingga suhu dingin menusuk tulang. Kerap kali Fhion merasa kelelahan dan kelaparan namun dia tidak peduli. Dia tidak bisa menghentikan keinginan untuk 'menyiksa' diri sendiri melalui anoreksia itu.
Jika Ffhion berusaha untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu, dia mengaku mendengar suara di kepalanya berteriak lebih kencang. Suara itu menyuruh Ffhion untuk mematuhinya, mematuhi aturan anoreksia.
Anoreksia itu semakin parah saat Ffion merasa jika dirinya memegang air maka air akan masuk ke tubuh melalui kulitnya dan membuat badannya menjadi gemuk. Karena itulah dia melukai diri untuk meminum darahnya sendiri dan mengelupasi bibirnya untuk mencegah haus.
Ffion yakin darahnya tidak akan membuat gemuk, karena darah itu berasal dari tubuhnya sendiri. "Saya melakukannya setiap hari hingga beberapa waktu tapi tidak pernah cukup." terangnya.
Hingga suatu hari Ffion pun ambruk karena tidak mengonsumsi air. Dia pun dibawa ke rumah sakit. Saat ini jika dirinya teringat masa itu, Fhion merasa benci karena sudah menyakiti dirinya sendiri.
Di usia 13 tahun, berat badan Fhion kurang dari 31 kg. Meski sudah dirawat di RS lokal, namun orang tuanya masih khawatir dan membawa Ffion ke Priory, RS khusus kesehatan jiwa di Bristol, Inggris.
Di Priory, Ffhion diupayakan untuk bisa makan makanan lagi. Mereka memberikan batas waktu untuk makan secara bertahap, dan menambah porsi makannya sedikit demi sedikit.
Ffion seperti kehilangan masa remaja karena harus melewatkan 12 tahun hidupnya untuk menjalani aneka terapi agar benar-benar sembuh. "Saya tidak pernah punya kue ulang tahun lagi, tidak pergi klabing, dan tidak pernah pergi berkencan," paparnya.
Namun Ffion menyadari mengawal apa yang dimakan adalah hal terpenting dalam hidupnya. Di satu sisi, anoreksi yang dideritanya terasa seperti upaya bertahan hidup. Namun di sisi lain dengan tetap membuat dirinya tertekan malah bisa membunuh dirinya sendiri.
Saat berusia 18 tahun, Ffion makan melalui tabung makanan. Ketika usianya menginjak 21 tahun, Ffion menolak makan melalui tabung makan.
Saat ini Ffion mengalami osteoporosis akibat anoreksia di masa lalu. Kini dia merasa bersalah pada orang tua dan kakaknya yang sudah sangat kerepotan dengan anoreksianya. Untunglah keluarganya selalu memberikan dukungan yang luar biasa.
"Saya hampir meninggal beberapa kali, dan ini sangat berat bagi mereka. Kadang saya merasa telah mengacaukan hidup mereka," tambahnya.
Pada 2009 lalu saat kakeknya meninggal, Ffion merasa sesuatu dalam dirinya tertampar. Kakek yang selama ini berharap dirinya membaik itu telah pergi untuk selamanya.
"Saya sadar bahwa hidup itu tidak menunggu, tapi saya harus mengambil kontrol," ucap Ffion.
Menurut ibunya, Mags, Ffion sangat pandai menyembunyikan makanan hingga dirinya tidak tahu telah dikelabuhi sang anak. Bahkan tidak ada satu pun anggota keluarga yang tahu Ffion selalu berolahraga berat karena kegiatan itu dilakukannya di pagi-pagi buta.
"Itu sangat mengerikan," kenang ibunda yang kerap menangis melihat selang yang selalu terpasang di hidung putrinya.
Ffion baru-baru ini melewatkan 10 bulan di unit spesialis gangguan makan di Marlborough, Wiltshire. Setelah mulai menjalani kehidupan normal, Ffion merasa sangat senang. Apalagi kini dia punya kekasih, hal yang sejak dulu tidak pernah dimilikinya. Dia pun telah mengamankan satu kursi di Universitas Bristol untuk mulai belajar menjadi perawat kesehatan mental. Dia akan mulai kuliah di bulan September.
"Saya bertekad untuk membantu orang lain yang memiliki penyakit mental," katanya sembari berniat tidak akan pernah lagi kembali ke kehidupan dengan anoreksia.
Sumber

No comments:

Post a Comment

ShareThis